Firmansyah, Adam (2026) Konsep Ummatan Wasathan Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 143 (Studi Komparatif Penafsiran Sayyid Qutb dan Buya Hamka). Other thesis, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Full text not available from this repository.Abstract
"ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya konsep ummatan wasathan dalam QS. Al-Baqarah ayat 143 sebagai dasar pembentukan umat yang adil, seimbang, tidak melampaui batas, dan mampu menjadi saksi atas manusia. Konsep tersebut menjadi semakin relevan di tengah munculnya kecenderungan ekstrem dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan serta membandingkan penafsiran Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an dan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengenai ummatan wasathan, sekaligus mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan karakteristik penafsiran keduanya.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan metode tafsir komparatif (muqaran). Sumber data primer yang digunakan ialah Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, artikel, dan penelitian terdahulu yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis), dengan tahapan mendeskripsikan penafsiran masing-masing mufasir, mengidentifikasi aspek yang diperbandingkan, menelusuri faktor yang memengaruhi, serta merumuskan persamaan, perbedaan, dan kekhasan keduanya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sayyid Qutb dan Buya Hamka sama-sama memahami ummatan wasathan sebagai umat yang seimbang, tidak ekstrem, mampu memadukan dimensi jasmani dan ruhani serta dunia dan akhirat, dan memiliki tugas menjadi saksi atas manusia. Perbedaannya terletak pada titik tekan dan gaya penafsiran. Sayyid Qutb mengembangkan konsep tersebut secara teologis-filosofis dengan tauhid sebagai dasar pembebasan manusia, serta menguraikannya dalam keseimbangan persepsi dan keyakinan, pemikiran dan perasaan, peraturan dan keserasian hidup, ikatan dan hubungan, serta zaman. Istilah fitrah dalam penafsirannya menunjukkan kesesuaian keseimbangan Islam dengan hakikat penciptaan manusia. Sebaliknya, Buya Hamka menafsirkannya melalui pendekatan adabi ijtima'i yang komunikatif, menggunakan analogi, perumpamaan, dan ilustrasi sosial yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Ia menekankan keadilan, keseimbangan dunia dan akhirat, kebebasan dan tanggung jawab, serta akal dan ibadah. Penelitian ini merekomendasikan agar konsep ummatan wasathan dipahami sebagai kesatuan antara keteguhan tauhid, keseimbangan hidup, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
"
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Al quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan UIN STS Jambi |
| Date Deposited: | 15 Sep 2026 07:08 |
| Last Modified: | 15 Sep 2026 07:08 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/5153 |
