Azilla, Azka (2025) Makna simbolik tradisi pingit tujuh hari sebelum pernikahan di desa ampelu tuo kecamatan muara tembesi. Other thesis, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Full text not available from this repository.Abstract
"Tradisi pingit merupakan salah satu ritual adat yang masih lestari di tengah masyarakat Desa Ampelu Tuo, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari. Tradisi ini dilaksanakan tujuh hari sebelum pernikahan dan khusus diperuntukkan bagi calon pengantin perempuan. Dalam praktiknya, pingit tidak hanya menjadi rangkaian prosesi adat, tetapi juga sarat dengan simbol-simbol yang memiliki makna sosial dan spiritual yang dalam. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena mengandung konstruksi sosial yang kompleks dalam membentuk identitas dan nilai perempuan dalam masyarakat Melayu lokal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dari tradisi pingit serta memahami bagaimana masyarakat memaknai dan mereproduksi nilai-nilai adat melalui simbol-simbol yang digunakan. Untuk menjawab tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan informan kunci, serta dokumentasi lapangan. Teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger yang menekankan pada proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam membentuk realitas sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam tradisi pingit seperti larangan keluar rumah, larangan bertemu calon suami, mandi kembang luluran serta nasihat orang tua memiliki makna sebagai bentuk penyucian diri, pengendalian nafsu, dan persiapan mental spiritual sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Simbol-simbol tersebut tidak hanya menjadi elemen budaya yang diwariskan, tetapi juga menjadi mekanisme kontrol sosial yang dilembagakan secara halus dalam struktur sosial masyarakat. Tradisi pingit secara tidak langsung juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap peran dan posisi perempuan dalam tatanan sosial adat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tradisi pingit merupakan konstruksi sosial yang kompleks, yang dibentuk dan dipertahankan melalui simbol-simbol budaya yang diinternalisasi oleh masyarakat. Simbol tersebut memainkan peran penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai adat serta membentuk identitas kolektif masyarakat lokal. Dengan demikian, tradisi ini bukan sekadar ritual menjelang pernikahan, tetapi juga cerminan dari sistem nilai dan struktur sosial yang masih hidup dalam kesadaran bersama masyarakat Desa Ampelu Tuo.
Kata Kunci: Tradisi Pingit, Makna Simbolik, Konstruksi Sosial, Perempuan, Budaya Lokal, Desa Ampelu Tuo.
"
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Aqidah dan Filsafat Islam |
| Depositing User: | Mahdianto UIN Jambi |
| Date Deposited: | 08 Oct 2025 02:00 |
| Last Modified: | 08 Oct 2025 02:00 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/3275 |
