Ahmad Royhan (2025) " KRITIK MUHAMMAD MUSTAFA AL-A’ZAMI TERHADAP PEMIKIRAN IGNAZ GOLDZIHER TENTANG AUTENTISITAS DAN OTORITAS ḤADĪṠ MENGENAI RIḤLAH KE TIGA MASJID ". Other thesis, Uin Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Full text not available from this repository.Abstract
"Ḥadīṡ Riḥlah ke tiga masjid sering jadi uji autentisitas dan otoritas ḥadīṡ dalam studi modern. Ignaz Goldziher menafsirkannya sebagai konstruksi sosial-politik pasca-Nabi, terutama di era Umayyah. Ia menilai penyebutan Al-Aqṣā berfungsi melegitimasi Yerusalem sebagai destinasi ziarah alternatif. Muhammad Mustafa Al-A’zami menolak, menunjukkan ketatnya metode sanad-matan ulama klasik. Ia menegaskan transmisi ḥadīṡ berlangsung sejak abad pertama H. dengan jaringan periwayatan luas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertentangan antara paradigma historis-kritis orientalis dan metodologi isnad dalam studi ḥadīṡ. Sebagai studi kasus, penelitian ini menelaah ḥadīṡ Riḥlah ke tiga masjid untuk mengevaluasi klaim rekayasa politik serta menguji keandalan metodologi kritik ḥadīṡ (sanad dan matan).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, jenis studi pustaka dengan pendekatan historis-kritis. Objek material: ḥadīṡ “Lā tušaddu riḥāl illā ilā ṯalāṯati masājid”; objek formal: kritik Al-A’zami atas Goldziher. Sumber primer: Muhammedanische Studien; dan Dirāsāt fī Al-Ḥadīṡ Al-Nabawī. Verifikasi redaksi dan sanad melalui Kutub Al-Sittah: Al-Buḫārī, Muslim, Al-Nasā’ī, Abū Dāwūd, Al-Dārimī. Langkah analisis: pemetaan metodologi, uji sanad-matan dan kronologi, serta evaluasi implikasi hukum. Hasil verifikasi: matan konsisten lintas sumber dan bebas kontradiksi substansial dalam korpus otoritatif. Jalur sahabat beragam (Abū Hurayrah, Abū Sa‘īd, Ibn ‘Umar, ‘Alī, Abū Baṣrah menunjukkan tawātur ma‘nawī.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Goldziher lebih menekankan konteks sosio-politik dalam memahami hadis, sekaligus meragukan keabsahan sanad yang dianggap sebagai konstruksi legitimasi belakangan. Sebaliknya, Al-A‘ẓamī menegaskan pentingnya verifikasi historis melalui pendekatan isnād, rijāl, dan koherensi matn sebagai satu kesatuan metodologis yang utuh. Klaim tentang adanya “rekayasa Umayyah melalui Al-Zuhrī” terbukti tidak konsisten secara kronologis dan bergantung pada riwayat yang bersifat tendensius. Autentisitas ḥadīṡ Riḥlah tetap memiliki landasan yang kuat; otoritasnya sah sebagai ḥujjah dalam membatasi ziarah ritual hanya pada tiga masjid utama. Sementara itu, kunjungan non-ritual ke tempat lain tetap diperbolehkan tanpa mengubah ketentuan ibadah yang bersumber dari ḥadīṡ ṣaḥīḥ. Dari sisi epistemologis, sinpandangan antara kritik sanad dan matn dinilai lebih komprehensif dibandingkan pendekatan reduktif yang semata bertumpu pada analisis historis.
"
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Hadis |
| Depositing User: | Perpustakaan UIN STS Jambi |
| Date Deposited: | 30 Sep 2026 07:08 |
| Last Modified: | 30 Sep 2026 07:08 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/8535 |
