Qipti, Ersa Melindi (2026) Makna Filosofis Tradisi Pengobatan Sintuk Dalam Masyarakat Pamenang Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Other thesis, UIN STS JAMBI.
Full text not available from this repository.Abstract
"Penelitian ini membahas tradisi pengobatan Sintuk di masyarakat Pamenang, Kabupaten Merangin, dengan fokus pada sejarah keberadaan, pelaksanaan ritual, makna simbolik, dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Tradisi Sintuk merupakan salah satu bentuk pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah keberadaan tradisi Sintuk di masyarakat Pamenang, memahami tata cara pelaksanaannya beserta makna simbolik yang menyertainya, serta mengungkap makna filosofis dari simbol-simbol dalam proses ritual tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sintuk telah dikenal masyarakat Pamenang sejak masa lampau, terutama pada saat akses terhadap layanan kesehatan modern masih terbatas. Kehadiran tradisi ini berawal dari kebutuhan masyarakat terhadap pengobatan yang mudah dijangkau dan kemudian diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Pelaksanaan Sintuk dilakukan melalui rangkaian ritual yang sederhana, yaitu pembacaan doa, penyebutan nama pasien, penggunaan rambut sebagai media pengobatan, ketukan sebanyak tujuh kali pada bagian tubuh yang sakit, serta pemberian gula sebagai penutup ritual. Setiap unsur dalam ritual tersebut memiliki makna simbolik, seperti doa sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT, rambut sebagai simbol perantara dan kedekatan, angka tujuh sebagai lambang keteraturan dan kesempurnaan, serta gula sebagai simbol penawar dan harapan akan kesembuhan.
Secara filosofis, tradisi Sintuk mencerminkan pandangan hidup masyarakat Pamenang yang memadukan dimensi religius, sosial, dan budaya dalam memaknai sakit dan penyembuhan. Tradisi ini menunjukkan bahwa kesembuhan tidak hanya dipahami sebagai pemulihan fisik, tetapi juga sebagai usaha mengembalikan keseimbangan antara manusia, Tuhan, keluarga, dan lingkungan sosial. Dengan demikian, Sintuk tidak hanya berfungsi sebagai pengobatan tradisional, tetapi juga sebagai simbol kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Pamenang.
Kata kunci: Sintuk, pengobatan tradisional, simbolik, filosofis, masyarakat Pamenang."
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Aqidah dan Filsafat Islam |
| Depositing User: | Munsia Andriani |
| Date Deposited: | 08 Aug 2026 03:20 |
| Last Modified: | 08 Aug 2026 03:20 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/7634 |
