Logo UIN

Digital Library - UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Makna semantik lafaz uffin dalam Alquran dan implikasinya terhadap etika anak dan orang tua dalam konteks kontemporer

Mohamad Aris, Mohamad Aris (2026) Makna semantik lafaz uffin dalam Alquran dan implikasinya terhadap etika anak dan orang tua dalam konteks kontemporer. Other thesis, UIN STS JAMBI.

Full text not available from this repository.

Abstract

"Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman mengenai
makna semantik lafaz uffin dalam Al-Qur‟an serta implikasinya terhadap nilai etika
anak kepada orang tua dalam konteks kehidupan modern. Hal ini mendorong
penulis untuk mengkaji kembali makna lafaz uffin melalui pendekatan semantik
Toshihiko Izutsu, serta mengungkap nilai-nilai etika yang terkandung di dalamnya
sebagai pedoman sikap anak terhadap orang tua berdasarkan prinsip birr al-
wālidayn.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis kepustakaan (library
research) dengan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Sumber data utama
penelitian ini adalah seluruh ayat yang memuat lafaz uffin, yang didukung oleh
kitab-kitab tafsir, kamus bahasa Arab, karya-karya Toshihiko Izutsu, serta literatur
ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan makna dasar (basic
meaning), makna relasional (relational meaning), analisis sinkronik dan diakronik,
serta pemetaan medan semantik untuk menemukan pandangan dunia
(weltanschauung) Al-Qur‟an terhadap lafaz uffin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafaz uffin dalam Al-Qur‟an memiliki
makna dasar berupa ungkapan kejengkelan, keluhan, dan ketidaksenangan. Dalam
makna relasional, lafaz uffin berkaitan dengan konsep wālidayn, tanhar, karīman,
dan iḥsānan, yang menunjukkan hubungan antara larangan menyakiti, kewajiban
menghormati, serta perintah berbuat baik. Secara sinkronik dan diakronik, lafaz
uffin mengalami perkembangan makna. Pada masa pra-Qur‟anik, lafaz uffin
berkaitan dengan sesuatu yang kotor, hina, atau sesuatu yang dianggap tidak
menyenangkan. Pada masa Qur‟anik, lafaz tersebut berkembang menjadi ungkapan
kejengkelan, keluhan, dan ketidaksenangan yang digunakan dalam konteks
larangan menyakiti orang tua, serta sebagai ungkapan penolakan terhadap
kemusyrikan Adapun pada masa pasca-Qur‟anik, lafaz uffin mengalami
perkembangan makna yang lebih luas, yaitu tidak hanya dipahami sebagai
ungkapan kejengkelan atau kebosanan, tetapi juga digunakan untuk menunjukkan
sesuatu yang dipandang buruk, rendah, kotor, dan tidak pantas. Perkembangan
tersebut menunjukkan bahwa lafaz uffin memiliki nuansa negatif yang berkaitan
dengan sikap, ucapan, dan perilaku yang bertentangan dengan nilai etika. Adapun
weltanschauung lafaz uffin menunjukkan bahwa Al-Qur‟an memberikan batas
moral terhadap setiap ucapan, sikap, dan perilaku yang mengandung unsur
penolakan, ketidakhormatan, maupun tindakan yang dapat menyakiti pihak lain.
Pemaknaan tersebut menghasilkan nilai etika berupa penghormatan, pengendalian
diri, kelembutan, kasih sayang, serta sikap menghargai orang tua sebagai bentuk
penerapan birr al-wālidayn. Implikasi dari pemaknaan semantik lafaz uffin
menunjukkan bahwa ajaran Al-Qur‟an mengenai etika anak kepada orang tua
memiliki cakupan yang luas. Apabila nilai tersebut diabaikan, maka dapat muncul
berbagai bentuk perilaku yang bertentangan dengan penghormatan kepada orang
tua. Sebaliknya, apabila dipahami dan diterapkan, maka nilai yang terkandung
dalam lafaz uffin dapat menjadi pedoman etis bagi anak dalam menjaga ucapan,
sikap, dan perilaku berdasarkan prinsip birr al-wālidayn dalam menghadapi
perubahan kehidupan modern."

Item Type: Thesis (Other)
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Al quran dan Tafsir
Depositing User: Munsia Andriani
Date Deposited: 02 Aug 2026 02:09
Last Modified: 02 Aug 2026 02:09
URI: http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/7466

Actions (login required)

View Item
View Item