Logo UIN

Digital Library - UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Kesaksian Perempuan Dalam Al-Qur'an (Studi Kritis Atas Tafsir Zamakhsyari Melalui Ma'na-Cum-Maghza

Ahmad Hakiki (2025) Kesaksian Perempuan Dalam Al-Qur'an (Studi Kritis Atas Tafsir Zamakhsyari Melalui Ma'na-Cum-Maghza. Other thesis, Uin Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Full text not available from this repository.

Abstract

"ABSTRAK
Perdebatan mengenai gender dalam Islam terus berkembang, terutama dalam
menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan posisi perempuan di masyarakat.
Salah satu ayat yang sering dikaji adalah QS. Al-Baqarah [2]: 282 tentang kesaksian
perempuan. Tafsir klasik, seperti Tafsir al-Kassyaf karya al-Zamakhsyari, menafsirkan
ayat ini secara tekstual dengan menekankan aspek linguistik dan makna literal.
Zamakhsyari berpendapat bahwa kesaksian dua perempuan setara dengan satu laki�laki karena faktor kelupaan yang dianggap lebih melekat pada perempuan. Namun,
tafsir yang seperti ini menuai kritik dalam kajian kontemporer karena dianggap bias
gender dan tidak mempertimbangkan dinamika sosial-historis. Sebagai kitab yang
bersifat universal, Al-Qur’an seharusnya dapat menjawab tantangan setiap zaman
dan tempat, sehingga diperlukan pendekatan tafsir yang lebih relevan dengan konteks
sosial saat ini. Penelitian ini mengkaji tafsir al-Zamakhsyari secara kritis dengan
metode kualitatif berbasis studi pustaka, menggunakan pendekatan analisis-deskriptif
dan analisis kritis. Analisis kritis berfokus pada evaluasi terhadap metodologi dan
interpretasi al-Zamakhsyari, dengan landasan metodologis yang kuat. Dalam hal ini,
penelitian mengadopsi pendekatan ma‘na-cum-maghza yang dikembangkan oleh
Sahiron Syamsuddin untuk mengidentifikasi makna historis, signifikansi fenomenal,
dan relevansi dinamis ayat ini dalam konteks modern.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kesaksian perempuan dalam ayat ini
bukan merupakan bentuk diskriminasi, melainkan respons terhadap struktur sosial
Arab pada masa itu, serta aturan kesaksian perempuan harus dipahami dalam
konteks sosial-historis. Pembatasan jumlah saksi perempuan bukan karena
kelemahan bawaan, melainkan karena akses terbatas terhadap pendidikan dan
pengalaman hukum. Jika tafsir konservatif dipertahankan tanpa mempertimbangkan
perubahan zaman, sehingga bisa dianggap tidak relevan. Pandangan yang
menyatakan perempuan berakal lemah telah melahirkan diskriminasi. Oleh karena itu,
diperlukan tafsir yang lebih kontekstual agar nilai-nilai universal Al-Qur’an tetap
relevan dan aplikatif sepanjang masa. "

Item Type: Thesis (Other)
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Al quran dan Tafsir
Depositing User: Perpustakaan UIN STS Jambi
Date Deposited: 23 Sep 2026 01:24
Last Modified: 23 Sep 2026 01:24
URI: http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/7148

Actions (login required)

View Item
View Item