Muhammad Fakhri Arridho (2025) "TAFSIR AYAT NUSYUZ DALAM AL-QUR’AN (Studi Komparatif Tafsir Al -Azhar dan Tafsir Al -Tahrir wa Al -Tanwir )". Other thesis, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Full text not available from this repository.Abstract
"Penelitian ini mengkaji konsep nusyuz (pembangkangan dalam rumah
tangga) melalui analisis komparatif terhadap Tafsir Al -Azhar karya Buya
Hamka dan Tafsir Al -Tahrir wa Al -Tanwir karya Ibnu Ashur, dengan fokus
pada QS. A l -Nisa’ [4]:34 dan QS. A l -Nisa' [4]:128. Urgensi penelitian
terletak pada problematika pemahaman nusyuz yang cenderung bias gender
dalam masyarakat kontemporer, di mana konsep tersebut sering
diinterpretasikan secara timpang sebagai pembangkangan istri terhadap
suami, mengabaikan kemungkinan nusyuz dari pihak suami. Interpretasi
yang tidak berimbang ini seringkali menjadi dasar legitimasi bagi praktik-
praktik yang merendahkan martabat perempuan dalam relasi pernikahan.
Penelitian ini menerapkan pendekatan analisis-komparatif dengan
metode library research , menggunakan dua sumber data primer (Tafsir Al -
Azhar dan Tafsir Al -Tahrir wa Al -Tanwir ) dan berbagai literatur pendukung
sebagai sumber sekunder. Analisis dilakukan secara tematik-komparatif
dengan tahapan inventarisasi data, pengkajian komprehensif, abstraksi
deskriptif, dan komparasi mendalam untuk mengungkap dimensi pemikiran
kedua mufassir dalam konteks yang berbeda, Buya Hamka mewakili
perspektif Nusantara dengan corak penafsiran kontekstual, sementara Ibnu
Ashur mewakili tradisi tafsir Timur Tengah dengan pendekatan linguistik-
filosofis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufassir memiliki
persamaan fundamental dalam memahami nusyuz sebagai ketidakselarasan
dalam relasi suami-istri yang dapat bersumber dari kedua belah pihak,
dengan penanganan bertahap berdasarkan prinsip islah (rekonsiliasi).
Keduanya sangat berhati-hati dalam menafsirkan konsep “memukul” dalam
QS. Al-Nisa’ [4]:34, menegaskan bahwa tindakan tersebut bersifat simbolis
dan bukan legitimasi kekerasan. Perbedaan signifikan terletak pada
pendekatan metodologis Buya Hamka menggunakan pendekatan
kontekstual yang berorientasi pada realitas masyarakat Indonesia dengan
sensitivitas lebih tinggi terhadap isu kesetaraan gender, sementara Ibnu
Ashur menerapkan pendekatan linguistik-analitis yang lebih menekankan
tradisi intelektual klasik. Untuk nusyuz suami, keduanya menekankan
pendekatan perdamaian (sulh ) sebagai solusi utama, namun Buya Hamka
lebih eksplisit menegaskan bahwa perdamaian tersebut tidak boleh
mengorbankan martabat perempuan. Penelitian ini berkontribusi pada
pengembangan pemahaman yang berimbang tentang konsep nusyuz ,
menawarkan kerangka interpretasi yang selaras dengan prinsip keadilan dan
kasih sayang dalam Islam, sekaligus responsif terhadap perkembangan
pemahaman relasi gender di era kontemporer."
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Al quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Perpustakaan UIN STS Jambi |
| Date Deposited: | 22 Sep 2026 02:22 |
| Last Modified: | 22 Sep 2026 02:22 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/6816 |
