FURQON ALBAIT (2026) Interpretasi hadis tentang fatherless kajian atas hadis sahih Bukhori no 893. Other thesis, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Full text not available from this repository.Abstract
"Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam keluarga yang semakin meningkat di masyarakat modern, khususnya di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya merujuk pada ketidakhadiran ayah secara fisik, tetapi juga minimnya keterlibatan emosional dan tanggung jawab dalam pengasuhan anak. Dalam perspektif Islam, peran ayah memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai pemimpin dan penanggung jawab dalam keluarga sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Salah satu hadis yang relevan adalah hadis riwayat Sahih al-Bukhari No. 893 tentang konsep kepemimpinan dan tanggung jawab (Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi). Namun, pemahaman terhadap hadis tersebut sering kali belum dikaji secara mendalam dalam konteks fenomena sosial kontemporer seperti fatherless. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji makna hadis Sahih al-Bukhari No. 893 melalui pendekatan interpretasi hadis serta menganalisis relevansinya terhadap fenomena fatherless dalam kehidupan modern.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer bersumber dari hadis Sah}ih al-Bukha>ri No. 893 beserta kitab syarahnya, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab-kitab hadis, literatur keislaman, jurnal ilmiah, serta penelitian terdahulu yang relevan dengan tema peran ayah dan fenomena fatherless. Analisis data dilakukan melalui pendekatan interpretatif yang meliputi analisis teks (matan), pemaknaan istilah kunci, serta pemahaman kontekstual untuk mengaitkan hadis dengan realitas sosial kontemporer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis Sah}ih al-Bukha>ri No. 893 menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin yang memiliki tanggung jawab, termasuk ayah sebagai pemimpin dalam keluarga. Kepemimpinan ayah tidak hanya mencakup aspek material, tetapi juga tanggung jawab dalam pendidikan, pembinaan moral, serta pemenuhan kebutuhan emosional dan spiritual anak. Fenomena fatherless dapat dipahami sebagai bentuk kegagalan dalam menjalankan amanah kepemimpinan tersebut. Oleh karena itu, hadis ini memiliki relevansi yang kuat dalam memberikan landasan normatif untuk mengatasi fenomena fatherless, sekaligus menegaskan pentingnya peran ayah dalam membangun keluarga yang harmonis dan seimbang. Dengan demikian, ajaran hadis Nabi Muhammad Saw. tentang kepemimpinan merupakan konsep yang bersifat holistik yang mencakup dimensi sosial, moral, dan spiritual dalam kehidupan keluarga Muslim."
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Studi Agama > Ilmu Hadis |
| Depositing User: | Perpustakaan UIN STS Jambi |
| Date Deposited: | 17 Sep 2026 04:43 |
| Last Modified: | 17 Sep 2026 04:43 |
| URI: | http://digilib.uinjambi.ac.id/id/eprint/5759 |
